weLcoMe...

weLcoMe to aLL..!!

enJoy HeRe..!!!

Kamis, 10 Juni 2010

Tugas UTS
Kurikulum Pendidikan Madrasah Diniyah Tarbiyatul Muttaqin
Blitar
Makalah ini disusun untuk memenuhi  Tugas UTS Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dibimbing Oleh :
Abdul Ghofur, M.Ag
Oleh :
Wildan Rizqi Uchrowi ( 08110076 )

November ,2009
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG


BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
            Pada masa permulaan Islam, pelajaran agama diberikan di rumah-rumah. Rasulullah SAW sendiri menggunakan rumah Arqom bin Abil Arqam sebagai tempat pertemuan dengan para sahabat dan pengikut-pengikut beliau. Kaum Muslimin dimana beliau mengajarakn kaidah-kaidah islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu beliau mengadakan pula pertemuan di rumah beliau di Mekkah, dimana kaum Muslimin berkumpul untuk belajar dan membersihkan aqidah mereka.
            Untuk memeberikan pelajaran kepada anak-anak mereka, kaum Muslimin pada waktu itu mengirim anaknya ke langgar-langgar, pondok atau pesantren untuk belajar membaca dan menulis, atau ke masjid-masjid untuk mendengarkan ceramah-ceramah atau kuliah-kuliah keagamaan dan ilmu pengetahuan umum atau khusus mengirimkan mereka ke rumah-rumah para ‘alim ulama’ untuk dapat didikan langsung dari para ulama’, atau ke perpustakaan-perpustakaan di mana di peroleh bubku-buku yang lengkap untuk dibaca dan dijadikan referensi dan dapat pula mengadakan hubungan dengan ulama’ dan sarjana.

I.2. Rumusan Masalah
            Dalam pembuatan makalah ini saya menggunakan rumusan masalah. Yaitu antara lain :
1. mengetahui bagaimana kurikulum pendidikan islam di sekitar daerah saya?
2. mengetahui kenapa anak membutuhkan pendidikan secara al qur’an dan hadist?
3. mengetahui kenapa kita mebutuhkan pendidik muslim?



BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Kurikulum Madrasah Diniyah di Desa Banggle, Kabupaten Blitar
            Pondok adalah tempat pertama mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an, dan pondok ini memegang peranan penting dalam Islam. Banyak sekali orang Islam yang bersaham dalam mendirikan sekolah-sekolah untuk tempat anak-anak belajar, bahkan mereka berlomba-lomba mendirikannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menyebarluaskan pengetahuan di kalangan para orang yang berada dan yang berkekurangan sekolah-sekolah itu kadang-kadang di jadikan bagian dari masjid, dan kadang-kadang berdiri sendiri. Juru didik Islam di daerah itu menganggap anak didiknya dengan anggapan dan pandangan yang sama tanpa membedakan si kaya dan si miskin, yaitu anggapan yang sama rata dalam pelajaran dan pendidikan.
            Tidak ada dalam dunia Islam sekolah-sekolah yang khusus buat anak-anak yang berbeda dan bangsawan dan sekolah-sekolah umum pula buat anak-anak miskin. Tetapi sekolah-sekolah itu adalah buat semua golongan anak-anak islam, sikaya dan si miskin belajar dalam satu kelas yang sama atau sekolah yang sama tanpa perbedaan ini itu. Prinsip persamaan, keadilan dan demokrasi serta kesempatan belajar yang sama, sangat di perhatikan. Pengajaran dalam Islam tidak hanya terbuka bagi suatu golongan karena mereka kaya atau tertutup bagi golongan lain yang tidak mampu.

Kelemahan sistem Madrasah Diniyah di Desa Banggle
            Pada dasarnya sama dengan kelemahan umum yang di sandang oleh sistem pendidikan di Indonesia, yakni :
1.      Mementingkan materi di atas metodologi
2.      Mementingkan memori di atas analisis dan dialog
3.      Mementingkan pikiran vertical di atas literal
4.      Mementingkan penguatan pada otak kiri di atas otak kanan
5.      Materi pelajaran agama yang diberikan masih bersifat tradisional, beloum menyentuh aspek rasional.
6.      Penekanan yang berlebihan pada ilmu sebagai produk final, bukan pada proses metodologinya
7.      Mementingkan orientasi “ memiliki “ di atas “ menjadi “

           Keberadaan pendidikan madrasah sebagai sub-sistem pendidikan nasional perlu dipertahankan dan dikembangkan. Namun demikian, pendidikan ini akan mampu memberikan sumbangan yang berarti jika disertai dengan metodologi modern dan islami. Untuk itu diperlukan guru yang mampu mendidik dan mengajar dengan metodologi yang sesuai dengan tantangan zaman peserta didik.

II.2. Kebutuhan Pendidikan Pada Anak
           Anak adalah periode peralihan dari masa siswa ke masa dewasa. Anak menunujukkan ciri-ciri fisik dan kejiwaan yang penting antara pubertas dan dewasa. Anak juga mencakup pencarian kebebasan dalam emosi, social dan ekonomi. Periode ini adalah saat indivudu menggunakan kemampuan untuk menerima dan memberi, untuk berkomunikasi dengan orang-orang lain, dan mempercayai mereka serta untuk belajar mengenai apa yang merusak atau apa yang baik bagi dirinya sendiri dan orang lain.
            Kebutuhan manusia akan pendidikan merupakan suatu yang sangat mutlak dalam hidup ini dan manusia tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pendidikan. Jhon Dewey ( dalam zakiah daradjat, 1982 :1) menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan hidup manusia guna membentuk dan mempersiapkan pribadinya agar hidup dengan disiplin.
                        Kepercayaan terhadap agama ada bermacam-macam. Yaitu : ada yang percaya turut-turutan, percaya dengan kesadaran, percaya tapi agak ragu-ragu ( bimbang ), dan ada yang tidak percaya sama sekali atau cenderung kepada atheis. Di sisi lain, banyak dihadapkan pada lingkungan dan budaya yang bernuansa pragmatisme, yang mengajarkan bahwa yang benar dan yang baik ialah yang berguna, dan yang berguna itu biasanya lebih bernuansa fisik. Karena itu, pendidikan mempunyai tugas ganda. Yakni, disamping mengembangkan kepribadian manusia secara individual, juga memepersiapkan manusia sebagai anggota penuh dari kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, Negara, dan lingkungan dunianya.

             Oleh karena itu diperlukan pendidikan yang ditujukan merata terhadap semua golongan, termasuk anak-anak. Seperti telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.



Yang artinya :
        “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk “.
            Dan di sebutkan pula dalam hadist yang di sabdakan oleh junjungan kita Rosulullah SAW. Yaitu :
                                    طلب العلم فرضة على كلّ مسلمين والمسلمات
            Yang artinya :
            “ Menuntut ilmu itu diwajibkan kepada setiap orang islam laki-laki dan orang islam perampuan “

II.3. Pendidik Muslim
            Pendidik muslim dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Untuk membentuknya diperlukan pengembangan ketiga dimensi secara berkelanjutan dan terpadu. Atas dasar pemikiran tersebut, peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq mulia siswa melalui pendidikan agama tersebut perlu memperoleh perhatian yang serius dari semua pihak, baik dari sekolah, keluarga maupun dari masyarakat. Apalagi jika masalah tersebut dihadapkan pada siswa usia SMA yang sedang memasuki masa pubertas atau masa remaja.
Pendidik memegang tanggung jawab terhadap Allah SWT untuk membina peserta didiknya. Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri Islam.
Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman :
            يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
(التحريم : ٦)
Yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Yang artinya :
“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”
BAB III
KESIMPULAN
            Jika dikaitkan dengan UU SPN nomor 20 tahun 2003. Maka, madrasah dalam bentuknya sebagai bidang tugas pendidikan dan jenis pendidikan umum harus ditempatkan dalam tatanan sistem pendidikan umum, yaitu merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
            Madrasah Diniyah ( Awaliyah, Wustha, dan Ulya ) adalah alat atau wadah yang ditujukan sebagai komplimen yang melengkapi pendidikan Agama di sekolah umum dalam bentuknya yang ada sekarang dijadikan pendidikan diniyah ( Awaliyah, Wustha, dan Ulya ) dalam bentuknya sebagai pendidikan pada jalur non formal.
            Selain itu, perlu lebih ada rasa tanggung jawab dari pihak pendidik. Selama ini pihak pendidik selau merasa lebih tinggi derajatnya daripada peserta didik. Padahal, semua manusia sama derajatnya di mata Allah SWT. Pendidik memikul tanggung jawab yang pasti aan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.









DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata,2001. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu
Malik Fadjar, 2001. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung : Mizan
Abdul Mujib & Jusuf Mudzakkir, 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media
Abdul Rachman, 2004. Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa. Ciputat : Raja Grafindo Persada